Selasa, 14 Desember 2010

Makna Banten Byakala


I.                   BANTEN BYAKALA
Sebelum memulai suatu upacara Yadnya, mulai dari tingkat Manusa hingga Dewa Yadnya, selalu diawali dengan upacara penyucian yang terdiri dari banten Byakala dan Prayascitta.
Banten byakala adalah bentuk penyucian secara lahiriah, sedangkan Prayascitta adalah bentuk penyucian secara rohaniah.
Berikut kami coba menjelaskan maksud dari menghaturkan banten Byakala.

Inti dari Banten Byakala terdiri dari :
1.      Alasnya berupa ayakan atau dalam bahasa Bali disebut sidi.
Sidi atau ayakan dalam keseharian kita digunakan sebagai saringan. Jadi disini makna sidi adalah menyaring wujud yang kasar menjadi wujud yang halus, dalam hal ini untuk meningkatkan sifat-sifat Butha Kala dari yang kasar menjadi halus untuk membantu manusia dalam menangani berbagai pekerjaan dalam rangka beryajna

2.      Diatas sidi diletakkan kulit sesayut  (aled berbentuk bundar yang terbuat dari slepan/janur yg agak tua dan berwarna hijau tua )
Ini melambangkan hidup di dunia sekala ini diusahakan dengan cara bertahap dengan rencana yg matang menuju tujuan yg semakin baik
Kulit sesayut sejalan dg arti kata Sesayut, yg berasal dari kata “ayu” yang berarti kerahayuan. Jadi dari sini terlihat bahwa tujuan dari banten byakala ini adalah merobah keadaan dari yang kurang baik menjadi baik.

3.      Kulit peras pandan berduri (Pandan Wong)
Dalam lontar Yajna Prakerti, peras berarti prasidha, artinya sukses dengan mengendalikan Tri Guna. Dengan mengendalikan Tri Guna di Bhuvana Alit dan Bhuvana Agung kita akan mendapat kekuatan yg tangguh untuk menyucikan kotoran yg bersifat sekala. Sedangkan Kulit peras dari Pandan Wong adalah lambang  senjata untuk melindungi kebenaran yg diperjuangkan oleh manusia.

4.      Nasi metajuh dan nasi metimpuh
Nasi metajuh dan matimpuh terdiri dari nasi yang berisi garam dan lauk pauk lainnya lalu dibungkus dengan daun pisang dengan dibentuk sedemikian menjadi berbentuk segiempat (matajuh) dan bentuk segitiga (matimpuh).
Nasi beserta garam dan lauk-pauknya bermakna alam beserta isinya. Sedangkan dibungkus dengan daun bermakna bahwa alam beserta isinya wajib dilindungi dari pengaruh Buthakala. Hal ini erat kaitannya dengan cerita Mahabrata saat Dewi Gandhari mendapat wahyu dari Tuhan untuk memberi kekuatan pd Duryodhana putranya melalui penglihatannya, namun saat itu Duryodhana justru menutup kemaluannya sehingga saat perang Duryodhana mati terbunuh oleh Bima karena dipukul dibagian kemaluannya.
Metimpuh dan metajuh sebagai symbol laki dan perempuan. Artinya kedua-duanya harus mendapat perlindungan dari pengaruh Buthakala.

5.      Lis alit/lis bebuu/lis byakala
Berbeda dengan Lis senjata pada Prayascita, Lis bebuu terdiri dari ; tangga menek, tangga tuwun, jan sesapi, ancak bingin, alang-alang, tipat pusuh, tipat tulud, basing wayah, basing nguda, tampak, tipat lelasan, tipat lepas, tipat kukur dll lalu dibungkus dan dijadikan satu dengan jejahitan yg bernama “takep jit” dan diikat menjadi satu.
Ini bermakna menghilangkan Dasa Mala (slokantara 84) yaitu sepuluh macam perbuatan kotor yang tidak layak dilakukan.

6.      Sampyan padma
Merupakan symbol Dewa Siwa sebagai pembasmi yang bersifat negative.

7.      Pabersihan payasan serta satu takir isuh-isuh ( sapu lidi-tulud sambuk-danyuh dan satu takir benang merah)
Merupakan symbol sarana untuk membersihkan Bhuvana alit dan Bhuvana Agung

8.      Sampyan nagasari dari daun endong merah dilengkapi dengan bunga, kembang ramped an porosan
Kata Nagasari terdiri dari kata “Naga” dan “Sari”.
Naga dalam bahasa Sansekerta berarti ular dan juga berarti bumi tempat mahluk hidup mengembangkan dirinya.
Sedangkan Sari berarti inti yang paling utama. Jadi nagasari melambangkan prosesi penyucian inti dari Bhuvana Alit dan Bhuvana Agung.

Khusus untuk banten byakala, kesemuanya dibuat dari slepan dan nagasari dari daun endong merah. Mengapa? Karena mengambil dari warna hitam/merah, yang secara lahir hitam berarti kotor, sedangkan byakala menyimbulkan upacara untuk menghilangkan kekotoran yang ada di dalam diri manusia (bhuvana alit) maupun di alam (bhuvana agung). Berbeda dengan prayascita yang mengambil dari daun janur kuning/putih yang berarti suci/bersih.

Dikutip dari buku “Makna Upacara Yadnya dlm Agama Hindu oleh Drs. I Ketut Wiana  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar