Minggu, 28 November 2010

PURA DAN PALINGGIH

PURA DAN PALINGGIH
I. PENGERTIAN PURA

Pura merupakan symbol kosmos dari alam sorga (kahyangan)
Pura berasal dari kata “pura” (sansekerta) yang artinya “kota atau benteng”
Perkembangan pura di Bali :
Pada jaman Bali Kuna pura disebut Sanghyang (bukti : prasasti Trunyan A I th.891M)
Pada masa Mpu Kuturan, disebut dengan parahyangan atau kahyangan dewa (lontar Usana Dewa. Be;iau pula yg mengenalkan istilah meru, gedong, dan pura serta membuat Pura Sad Kahyangan , pura kahyangan Catur Loka Pala, dan kahyangan Rwa bineda serta Kahyangan Tiga.
Pada masa Dang Hyang Nirartha, mulai dibedakan antara meru atau gedong untuk Dewa maupun leluhur, serta membuat Padmasana



II. JENIS-JENIS PURA

Berdasarkan atas fungsinya :
a. Pura Jagat, yaitu pura yang berfungsi sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi beserta seluruh manifestasinya
b. Pura kawitan yaitu pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja roh suci leluhur

Berdasarkan atas karakteristiknya :
a. Pura Kahyangan Jagat yaitu pura tempat memuja Hyang Widhi dalam aneka bentuk manifestasinya, misalnya ; Pura Sad Kahyangan dan pura Kahyangan Jagat
b. Pura Kahyangan desa, yaitu pura yang disungsung oleh desa pakraman
c. Pura Swagina, yaitu pura yang penyungsungnya terikat oleh profesi yang sama dalam mata pencaharian seperti; Pura Subak, Pura Melanting, dll.
d. Pura Kawitan, yaitu pura tempat memuja leluhur. Berasal dari kata “wit” yang artinya leluhur. Contoh ; sanggah, merajan, panti, paibon, batur, penataran, padharman, dll.


III. STRUKTUR PURA

Berdasarkan konsepsi macrocosmos (bhuwana agung):
Denah pura terbagi atas 3 bagian, yaitu ;
a. Jaba pura atau jaba pisan (halaman luar) lambang bhurloka
b. Jaba tengah (halaman tengah) lambang bhuvahloka
c. Jeroan (halaman dalam) lambang svahloka
Terdapat juga pura dengan 2 bagian yaitu :
a. Jaba pisan melambangkan alam bawah
b. Jeroan melambangkan alam atas

Pura dengan 7 bagian halaman melambangkan saptaloka, contoh Pura Besakih, terdiri dari :
a. Bhurloka
b. Bhvahloka
c. Svahloka
d. Mahaloka
e. Janaloka
f. Tapaloka
g. Satyaloka

Pura dengan 1 halaman adalah simbolis dari ekabhuwana yaitu panunggalan alam atas dan alam bawah.

Tembok/penyengker yang mengelilingi pura sebagai batas pekarangan yang disakralkan
Sudut-sudut tembok dibuat “paduraksa” yang berfungsi untuk menyangga sudut-sudut pekarangan tempat suci

Pada halaman luar (Jaba pisan) umumnya terdapat :
Bale kulkul, bale wantilan, bale pewaregan, jineng/lumbung

Pada halaman tengah (Jaba tengah) umunya terdapat :
Bale agung dan bale gong

Pada halaman dalam (Jeroan), umumnya terdapat berbagai pelinggih.

Diantara jaba pisan dengan jaba tengah dipisahkan oleh candi bentar sebagai symbol Gunung Kailasa yaitu tempat bersemedinya Dewa Siwa, dengan dikiri kanan terdapat arca Dvarapala sebagai raksasa pengawal pura

Diantara jaba tengah dengan jeroan terdapat candi kurung atau kori agung dengan diapit oleh arca /hiasan kepala raksasa Bhoma (putra dari Dewa Wisnu dengan Dewi Pertiwi)


IV. BANGUNAN SUCI

A. PALINGGIH

Palinggih berari tempat malinggih/berstananya Hyang Widhi ataupun roh suci leluhur.

Jenis-jenis palinggih :
a. Prasada
Gambar :






Bentuk bangunannya merupakan kelanjutan atau peralihan dari bentuk candi di Jawa dengan meru di Bali

b. Padmasana
Berasal dari kata :
Padma yang artinya teratai merah
Asana yang artinya tempat duduk
Jadi padmasana berarti tempat duduk dari teratai berwarna merah yang merupakan sthana Hyang Widhi

Berdasarkan lokasi (pengider-ider Dewata Nawasanga) terdiri atas :
1. Posisi di timur menghadap ke barat disebut Padma Kencana
2. Posisi di selatan menghadap ke utara disebut Padmasana
3. Posisi di barat menghadap ke timur disebut Padmasana Sari
4. Posisi di utara menghadap ke selatan disebut Padmasana Lingga
5. Posisi di tenggara menghadap ke barat laut disebut Padma Asta Sadana
6. Posisi di barat daya menghadap ke timur laut disebut Padma Noja
7. Posisi di barat laut menghadap ke tenggara disebut Padma Karo
8. Posisi di timur laut menghadap ke barat daya disebut Padma Saji
9. Bertempat ditengah menghadap ke lawangan (pintu gerbang keluar masuk pura) disebut Padma Kurung (rong tiga)

Berdasarkan atas rong (ruang) dan palih (undag atau tingkat) terdiri atas :
1. Padmasana Anglayang atau Padma Anglayang
Rongnya : 3
Palihnya : 7
Menggunakan Bedawang nala
2. Padma Agung
Rongnya : 2
Palihnya : 5
Menggunakan bedawang nala
3. Padmasana
Rongnya : 1
Palihnya : 5
Menggunakan bedawang nala
4. Padmasari
Rongnya : 1
Palihnya : 3 dimana yang paling bawah disebut palih taman, yang tengah palih sancak dan yang diatas palih sari
Tidak menggunakan bedawang nala
5. Padma capah
Rongnya : 1
Palihnya : 2 yaitu dibawah palih taman, di tengah palih capah
Tidak menggunakan Bedawang nala

Pemberian pedagingan menyesuaikan pada masing-masing padma tersebut yaitu ;
1. Pada padmasana menggunakan bedawang nala, maka pedagingan diberikan pada ;
- Dasar
- Madya
- Puncak

2. Padmasana tanpa bedawang nala ;
- Dasar
- Puncak


c. Meru

Kata meru berasal dari kata Mahameru (gunung di India)
Bentuk bangunan terdiri atas : dasar, badan dan atap

Jenis – jenis Meru terdiri atas :
- Meru tumpang 1
- Meru tumpang 3
- Meru tumpang 5
- Meru tumpang 7
- Meru tumpang 9
- Meru tumpang 11

Banyaknya tumpang (lontar Andhabhuwana) merupakan symbol lapisan alam besar (macrocosmos), dimana dari bawah ke atas yaitu;
1. Sakala
2. Niskala
3. Sunya
4. Taya
5. Nirbana
6. Moksa
7. Suksmataya Turyanta
8. Acintyataya
9. Cayem

Atap meru juga simbolis dari “penglukunan Dasaksara” , yaitu :
Sa (Isvara), Ba (Brahma), Ta (Mahadeva), A (Visnu), I (Siva/Zenit), Na (Maheswara), Ma (Rudra) , Si (Sankara), Va (Sambhu), Ya (Siva/Nadir).

Banyaknya tumpang juga tergantung pada tinggi – rendahnya kedudukan, peran, fungsi, dan kekuasaan yang di sthanakan.
Meru yang tidak menggunakan tumpang disebut “kehen” yang boleh dibangun pada sanggah suhun.

Untuk meletakkan pedagingan :
- Meru tumpang 1 hingga 3 berpedagingan pada dasar dan puncak
- Meru tumpang 5 sampai 11 berpedagingan pada dasar, madya dan puncak

d. Rong Tiga

Fungsinya sebagai tempat memuja roh leluhur dan Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Brahma, Visnu, Isvara

Peletakkan pedagingannya lengkap dengan rerajahan tri aksara yaitu :
- Ang pada dasar
- Ung pada madya
- Mang pada puncak

e. Palinggih

Menurut Prakerti, ancer-ancer jumlah membuat palinggih disebut lingga, yakni menyebutkan sebagaiberikut:
1. Yang dengan ukuran Tri Lingga Dewata yaitu : Pura Puseh, Pura Desa, Pura Dalem
2. Dikarang paumahan, nista madya utama namanya pawangunin Sanggar Parahyangan
3. Untuk di bilangan kecil dibuat memakai ukuran Tri Lingga yaitu : Kemulan, Taksu, Tugu
4. Kalau yang sedang dibuat, namanya Panca Lingga yaitu: Kemulan, Taksu, Tugu, Pelik sari dan Gedong
5. Untuk utamaning nista namanya Sapta Lingga yaitu : Kemulan, Taksu, Tugu, Pelik sari, Gedong, Catu dan Menjangan Sluangan
6. Untuk yang utama namanya Eka Dasa Lingga yaitu : Kemulan, Taksu, Tugu, Pelik sari, Gedong, Catu, Menjangan Sluangan, Pesaren, Limas sari, Lurah dan Padma serta pengubengan semua dewata.

Palinggih – palinggih lain antaralain :
A. Apit Lawang
Berfungsi sebagai penjaga lawang
Kadang berupa patung bedogol (raksasa) yaitu : Nadiswara dan Mahakala
B. Bale Kulkul
Merupakan linggih Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Iswara (dalam ilmu yoga yaitu Paratma yang ada di kerongkongan, berfungsi untuk mengeluarkan suara)
C. Pahyasan atau Piasan
Berfungsi untuk tempat menata gegaluhan (menghiasi pratima-pratima)
Pengayat dewa Samudhaya (dewa-dewa semua) ataupun untuk dewa pratistha (menghadirkan para dewa)
D. Bale Agung
Berfungsi sebagai witana (tempat pertemuan) baik itu hubungannya dg upacara keagamaan, tempat berkumpulnya pratima-pratima
E. Bale Pepelik
Fungsinya hamper sama dengan bale agung, dalam artian tempat berkumpulnya atau pertemuan dari para dewa yang ada kaitannya dg kahyangan tempat piodalan tersebut.
F. Sanggah Kemulan
Berong tiga sebagai sthana Hyang Tri Murti, (Brahma, Wisnu, Iswara) terdapat dalam lontar Kusumadewa, Gong Wesi, Purwa Gama wesana
Difungsikan untuk memuja roh leluhur yang sudah disucikan (antyesti sanghasrkara) dalam wujud Pramestiguru
G. Menjangan Sluangan
Disebut Sanggar Sapta Rsi (lontar Kusumadewa)
Yakni tempat pemujaan Hyang Widhi sebagai awatara yang member perlindungan dalam kesempurnaan jiwa
H. Rambut Sedana (Manik Galih)
Berfungsi sebagai sthana dewata yang berperan dalam member kehidupan yang kekal atau yang menghidupi dlm wujud sandang,pangan,papan
I. Anglurah
Adalah lingga sthana Sedahan Panglurah (tepas macaling) yang secara simbolis berfungsi sebagai penjaga/pengawas wilayah pada suatu lokasi pura/mrajan
J. Palinggih Malimas
Merupakan pengayatan pesimpangan terhadap Kahyangan Jagat (lontar Kusuma Dewa)
Ada disebut : limas sari, limas catu, maprucut, manedung pane, catu meres, catu mujung, dll.
K. Gedong Bata
Sebagai lingga sthana Dewa di kahyangan bersangkutan, seperti Di Pura Desa dan Pura Dalem

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar